Surabaya, 21 April 2026 — Upaya meningkatkan kualitas lulusan terus dilakukan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS). Salah satunya melalui peninjauan dan revisi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang digelar dalam rapat resmi pada Selasa (21/4) di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Twin Tower.
Rapat yang berlangsung pukul 13.00–14.00 WIB itu dihadiri seluruh dosen program studi dan dipimpin langsung Ketua Prodi, Dr. Amiruddin Hadi Wibowo, M.Pd. Forum tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus merumuskan arah baru kurikulum agar lebih adaptif terhadap kebutuhan dunia pendidikan dan industri. Kaprodi menegaskan bahwa pendekatan OBE menuntut kejelasan capaian pembelajaran yang terukur dan relevan. Karena itu, kurikulum tidak hanya disusun berdasarkan materi, tetapi juga berorientasi pada kompetensi nyata yang harus dimiliki lulusan.
“Penyesuaian ini penting agar lulusan kita tidak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga memiliki kesiapan praktik dan daya saing di dunia kerja,” ujarnya.
Pembahasan rapat berlangsung dinamis. Para dosen memberikan berbagai masukan terkait kesesuaian capaian pembelajaran lulusan (CPL), distribusi mata kuliah, hingga relevansi materi dengan perkembangan kebutuhan global. Hasilnya, disepakati perlunya restrukturisasi mata kuliah agar lebih sistematis dan berjenjang, mulai dari kompetensi dasar hingga lanjutan.
Tidak hanya itu, pembaruan juga menyentuh aspek nomenklatur dan deskripsi mata kuliah. Beberapa mata kuliah dinilai perlu disesuaikan agar lebih mencerminkan kompetensi yang dituju. Salah satu contohnya adalah perubahan nama Speaking 1 menjadi Fundamental Speaking Skills, yang dinilai lebih representatif terhadap kemampuan dasar berbicara yang harus dikuasai mahasiswa.
Langkah ini diikuti dengan pembaruan deskripsi mata kuliah serta penyesuaian capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK) agar selaras dengan prinsip OBE yang menekankan keterukuran hasil belajar.
Di sisi lain, penguatan pembelajaran berbasis praktik juga menjadi perhatian utama. Melalui konsep English for Teaching Factory, mahasiswa didorong untuk tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga terlibat dalam praktik nyata yang kontekstual.
“Mahasiswa perlu dibiasakan dengan situasi riil agar memiliki pengalaman yang bisa menjadi bekal saat terjun ke dunia kerja,” tambah Amiruddin.
Sejalan dengan itu, rapat juga menyepakati integrasi program magang dan asistensi pengajaran dalam kurikulum. Program magang akan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa di sekolah, lembaga kursus, maupun institusi lain yang relevan. Sementara asistensi pengajaran dirancang untuk melatih keterampilan pedagogik mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran di kelas.
Penguatan kurikulum ini juga ditandai dengan penegasan profil lulusan yang mengacu pada standar asosiasi keilmuan. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UWKS menetapkan lima profil utama lulusan, yaitu pendidik, edupreneur, peneliti , pengelola lembaga bahasa Inggris, dan ESP (English for Specific Purposes) Specialist.
Kelima profil tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang karier yang lebih luas bagi lulusan. Tidak hanya sebagai guru, lulusan juga didorong menjadi wirausaha di bidang pendidikan, peneliti, hingga praktisi bahasa Inggris di sektor profesional.
Dengan langkah ini, FKIP UWKS menegaskan komitmennya dalam menghadirkan kurikulum yang relevan, adaptif, dan berorientasi masa depan. Dokumen hasil revisi kurikulum selanjutnya akan disusun oleh tim kurikulum untuk kemudian dibahas lebih lanjut sebelum diterapkan pada tahun akademik mendatang.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi institusi dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, kemampuan komunikasi, serta kesiapan menghadapi tantangan global.